Travel

Cara Traveling Ramah Lingkungan dan Hemat saat Berlibur

Share:

Piring plastik bekas makan siang menumpuk di tempat sampah area peristirahatan tol Purbaleunyi. Pemandangan seperti ini kerap terlihat setiap kali musim liburan akhir pekan tiba di Bandung. Liburan singkat untuk menyegarkan pikiran justru sering meninggalkan jejak sampah plastik dan polusi gas buang kendaraan.

Penerapan cara traveling ramah lingkungan yang hemat sebenarnya bisa dimulai dari perubahan kebiasaan kecil saat merencanakan perjalanan. Langkah sederhana ini membantu menjaga kebersihan destinasi wisata tanpa mengurangi keseruan momen jalan-jalan.

Pilihan Transportasi Publik Menuju Bandung

Perjalanan antar kota menyumbang emisi karbon terbesar selama liburan. Penggunaan moda transportasi massal ketimbang kendaraan pribadi menjadi langkah awal yang nyata untuk menekan polusi udara.

Kereta api menjadi opsi paling efisien untuk menuju Bandung dari Jakarta. Tiket kereta cepat Whoosh dari Stasiun Halim menuju Padalarang dijual sekitar Rp150.000 sampai Rp250.000 per orang dengan durasi perjalanan 30 hingga 45 menit. Sambungan kereta feeder membawa penumpang langsung ke Stasiun Bandung tanpa perlu menambah biaya.

Pilihan lain adalah kereta ekonomi Argo Parahyangan dengan tarif sekitar Rp45.000 hingga Rp150.000. Perjalanan selama tiga jam menyuguhkan pemandangan bukit hijau Jalur Serayu yang indah. Asap knalpot kendaraan di jalan tol pun berkurang, karena ratusan orang berpindah ke dalam satu rangkaian kereta.

Baca Juga: Cara Memilih Waktu Terbaik untuk Liburan Hemat dan Nyaman

Wadah Makan Mandiri Memangkas Tumpukan Sampah Plastik

Jajanan kaki lima di sekitar Jalan Riau atau Dipatiukur lazimnya dibungkus dengan kantong plastik dan kantong mika sekali pakai. Penggunaan perlengkapan makan sendiri dari rumah efektif menghentikan kebiasaan buang sampah di tempat wisata.

Simpan kotak makan lipat, botol minum stainless steel, serta sendok garpu kayu di dalam tas harian. Saat membeli batagor atau kedai mi di pinggir jalan, sodorkan wadah pribadi kepada penjual sebelum mereka mengambil wadah plastik.

Beberapa kafe di kawasan Jalan Braga bahkan memberikan potongan harga khusus sekitar Rp2.000 hingga Rp5.000 bagi pembeli dengan tumbler sendiri. Pengisian air minum gratis juga tersedia di beberapa titik taman kota seperti Taman Lansia dan Taman Gesit. Langkah kecil ini menghemat pengeluaran membeli air kemasan. Ratusan botol plastik yang memenuhi TPA Sarimukti pun berkurang.

Tas kain lipat di dalam dompet mempermudah penyimpanan barang belanjaan tanpa perlu menerima kantong plastik tambahan dari kasir toko souvenir.

Belanja Kuliner di Warung Lokal Kawasan Braga

Dukungan pada perekonomian masyarakat setempat adalah bagian dari konsep perjalanan yang berkelanjutan. Uang yang dibelanjakan di usaha mikro berputar langsung di komunitas lokal, bukan tersedot ke perusahaan luar daerah.

Nikmati hidangan nasi tutug oncom atau lotek di warung makan keluarga sepanjang kawasan Balai Kota dan Braga. Porsi makanan di tempat ini menggunakan piring keramik yang dicuci ulang sehingga tidak memicu sampah bungkus stereofoam. Bahan makanan yang dipakai juga dibeli langsung dari Pasar Cihapit setiap pagi. Langkah ini membuat rantai distribusi pendek dan rendah emisi.

Baca Juga: Ide Wisata Pantai Terindah di Indonesia Kawasan Lombok

Hindari memesan makanan berlebihan yang berisiko menjadi sampah organik di meja makan. Jika porsi terlalu besar, minta pelayan membungkus sisanya menggunakan kotak makan pribadi untuk disantap nanti malam di penginapan.

Penjelajahan Hemat Emisi di Area Pusat Kota

Eksplorasi area perkotaan tidak selalu memerlukan sewa mobil atau taksi daring. Kawasan pusat kota Bandung memiliki jarak antar destinasi yang berdekatan dan nyaman dieksplorasi tanpa kendaraan bermotor.

Gunakan moda angkutan kota atau bus listrik DAMRI dengan tarif flat sekitar Rp4.000 sampai Rp10.000 per jalan. Apabila hendak berpindah destinasi dalam radius satu hingga dua kilometer, berjalan kaki menelusuri trotoar Jalan Asia Afrika menjadi pilihan yang menyehatkan.

Penyewaan sepeda listrik juga bertebaran di sekitar Alun-Alun Bandung dengan tarif sewa sekitar Rp15.000 sampai Rp30.000 per jam. Selagi berjalan kaki atau bersepeda, amati keindahan arsitektur bangunan tua peninggalan zaman kolonial di sekeliling jalan. Jika mengalami masalah kesehatan seperti nyeri sendi atau sesak napas saat berjalan jauh, segera istirahat dan konsultasikan kondisi fisik ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat.

Aplikasi transportasi lokal mempermudah pemantauan jadwal kedatangan bus DAMRI di setiap halte.

Baca Juga: Rekomendasi Ide Liburan Singkat Akhir Pekan di Bandung

Pastikan botol minum dalam keadaan terisi penuh dari tempat menginap sebelum melangkah keluar pintu untuk memulai perjalanan.

Pertanyaan Seputar Cara Traveling Ramah Lingkungan

Apakah naik kereta ke Bandung lebih ramah lingkungan daripada membawa mobil pribadi?

Ya, kereta api mengangkut ratusan orang dalam satu perjalanan sehingga emisi per penumpang jauh lebih rendah. Tiket kereta Argo Parahyangan dijual mulai Rp45.000 hingga Rp150.000, sedangkan kereta cepat Whoosh sekitar Rp150.000 sampai Rp250.000. Pilihan moda transportasi massal ini memangkas jejak karbon liburan secara signifikan dibanding mengendarai mobil pribadi lewat tol.

Bagaimana cara menyewa sepeda listrik untuk keliling Bandung?

Layanan sewa sepeda listrik dapat diakses melalui aplikasi penyedia sepeda sewa yang tersedia di sekitar Alun-Alun Bandung dan Jalan Ganesha. Tarif sewanya sekitar Rp15.000 sampai Rp30.000 per jam. Pengunjung cukup memindai kode QR pada unit sepeda menggunakan ponsel untuk mulai berkendara.

Di mana tempat pengisian air minum gratis di pusat kota Bandung?

Stasiun Bandung serta beberapa taman publik seperti Taman Lansia dan Taman Gesit menyediakan fasilitas keran air siap minum gratis. Wisatawan tinggal membawa wadah minum mandiri untuk mengisi ulang botol tanpa perlu membeli air kemasan sekali pakai.

Apa tips memilih penginapan yang menerapkan konsep green hotel?

Pilih akomodasi yang memiliki kebijakan efisiensi energi, seperti penghentian penggantian handuk harian jika tidak diminta dan penggunaan pencahayaan hemat listrik. Penginapan yang tidak menyediakan botol air kemasan plastik kecil di kamar juga menjadi indikator pengelola yang peduli lingkungan.

Share: